Info Pendaftaran Peserta Didik Baru T.A. 2016/2017

Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh,

Menyambut datangnya tahun ajaran baru 2016/2017, SMA Muhammadiyah Padang Panjang membuka pendaftaran peserta didik baru untuk tahun ajaran 2016/2017, dapatkan info seputar Sekolah SMA Muhammadiyah Padang Panjang melalui brosur-brosur, iklan radio TOP FM frekuensi 98.6 FM, melalui website SMAMPAPA blanko pendaftaran siswa baru, atau datang langsung ke alamat, Jl. R.I. Dt. Sinaro Panjang No. 28 RT. VIII Komplek Kauman Muhammadiyah Kel. Tanah Pak Lambik Kec. Padang Panjang Timur Kota Padang Panjang Kodepos 27121, serta media elektronik lainnya.

Pendaftaran dibuka mulai bulan Mei 2016 dan ditutup setelah quota peserta didik baru terpenuhi pada tiap-tiap unit. Kepada orangtua/wali yang ingin mendapatkan info melalui Telp./HP, dapat menghubungi nomor kontak di bawah ini :

Kantor SMA Muhammadiyah : 0752-82610
> Dra. Hj. Mardiana : 0878 9296 4250
> Dra. Reniwita : 0852 6318 6668
> Ernida R, S.Pd : 0813 7488 9030
> Dewi Puspa Sari, S.Pd : 0853 7577 1323
> Fira Lismawarti, S.Pd : 0852 7407 4629

 

 

Cek SKTP 2016 (SD SMP SMA SMK) Di Laman Info GTK/PTK

Lembar Info PTK atau Lapor Tunjangan Dikdas

sumber : http://gtk.kemdikbud.go.id/page/lembar-info-ptk-atau-lapor-tunjangan-dikdas

Lembar Info PTK atau Lapor Tunjangan Dikdas (LTD) ialah fasilitas bagi guru/PTK yang disediakan oleh Direktorat P2TK Dikdas untuk membantu guru melakukan pengecekan hasil verifikasi data yang telah dikirim melalui aplikasi Dapodik.

lembar info ptk.png

Berikut ini ialah langkah-langkah cek data untuk melihat Lembar Info PTK tahun 2014

  1. Buka peramban dan ketik salah satu tautan aktif di bawah ini untuk menuju laman Lembar Info PTK

http://223.27.144.195:8081/

http://223.27.144.195:8082/

http://223.27.144.195:8083/

http://223.27.144.195:8084/

http://223.27.144.195:8085/

http://223.27.144.195:8086/

  1. Setelah salah satu lama info ptk di atas terbuka, maka untuk masuk ke dalam halaman verifikasi data guru/PTK caranya ialah sebagai berikut ini:

lembar info ptk.png

  1. Masukkan NUPTK sebagai UserID
  2. Masukkan tanggal lahir sebagai password dengan format penulisan YYYYMMDD di mana:

i.YYYY= tahun lahir 4 digit

ii.MM = bulan 2 digit

iii.DD = tanggal lahir

iv.Contoh: Tanggal lahir 10 januari 1968 maka cara menuliskannya ialah 19680110

  1. Langkah selanjutnya ialah masukkan kode captcha yang berada di bawah password dengan benar.
  2. Lakukan klik pada tombol “submit” kemudian silahkan tunggu laman verifikasi data termuat dengan sempurna
  3. Jika masih terdapat ketidaksesuaian data lembar info ptk dengan data asli maka lakukan pengecekan data di aplikasi dapodik, lakukan perbaikan data dan sync ulang/BSD.

 

 

  • Selamat mencoba melakukan Cek Data Guru dan SKTP Tahun 2016 atau cek SKTP Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016, semoga berhasil

 

Ciri–ciri guru yang memegang kendali atas pembelajarannya di kelas

ubd2

Guru yang memegang kendali di kelasnya adalah guru yang bisa dengan tenang menjalankan tugasnya dan bisa dengan percaya diri hadir di depan kelas mengajar dengan penuh kreativitas dan perhatian pada muridnya

Berikut ini adalah ciri guru yang memegang kendali terhadap hal yang

Terhadap LKS atau lembar kerja siswa

  • Ia jadi sosok yang bersedia susun soal-soalnya sendiri, ia tidak anti pada buku teks atau LKS buatan orang lain namun kritis dalam menampilkan mana yang terbaik untuk siswanya. LKS adalah petunjuk belajar, semua kata-kata yang ada dalam lembaran adalah cara guru menerangkan tambahan info lewat LKS bukan latihan soal, LKS yg baik bukan cuma berisi latihan soal saja.
  • Bersedia bekerja dalam MGMP sibuk membentuk tim, menyusun sendiri  materi pembelajaran yang terbaik untuk siswa
  • Ia akan jadikan LKS itu sarana utk sampaikan konsep, smntara ‘soal’ itu instrumen utk ukur ketercapaian belajar
  • Ia menganggap LKS dan buku teks, kesemuanya sebenarnya pekerjaan sehari2 seorang guru yg dibukukan

Terhadap orang tua siswa

  • Ia akan terus berinovasi di kelas, tujuannya agar siswa senang belajar dan ortu siswa senang ada perubahan dari anaknya.
  • Ia akan bersinergi dengan ortu siswa, menggunakan cara pandang mereka pada anaknya, yaitu selalu melihat ‘kekuatan’ sambil memperkuat kelemahan
  • Selalu berusaha mengajak ortu siswa berpikir ulang bahwa nilai akhir bukan segalanya, usaha siswa jauh lebih penting
  • Ia berusaha mengajar dengan kreatif dan semampunya, karena ia yakin ortu siswa senang lihat usaha guru anaknya

Terhadap sekolah tempat ia mengajar

  • Menomor satukan budaya sekolah artinya ia akan siap jadi orang yang bersikap positif dan berperasaan positif dalam memandang pekerjaan dan rekan satu profesi di sekolah yg sama.
  • Berusaha jadi orang yang bagus dalam berkomunikasi di sekolah adalah selesaikan dan sampaikan hal pada orang tua siswa sebelum semuanya jadi ‘besar’
  • Bersemangat dalam tiap pelatihan dan program pengembangan guru yang diadakan oleh sekolahnya

Terhadap sesama guru

  • Gemar berbagi ilmu dan berbagi tips pada sesama guru, karena ia sadar bahwa ia bekerja demi siswa dan siswa berhak mendapat pengajaran yang baik dari guru mana saja di sekolah
  • Ia sadar ukuran guru saat ini adalah seberapa bisa ia bekerja sama, memberi inspirasi pada sesama guru
  • Ia melakukan siklus belajar seorang guru; eksplorasi, coba, gagal, coba lagi, sukses, bagikan pada sesama guru
  • Ia memilih dengan selektif pertemanan dengan sesama guru, karena ia sadar dengan siapa ia berteman akan menentukan karir dan cara pandang terhadap dunia pendidikan

sumber: http://www.majulahsekolahku.com/ciri-ciri-guru-yang-memegang-kendali-atas-pembelajarannya-di-kelas.htm

Tips mendisiplinkan siswa tanpa harus menghukum

Institusi sekolah erat kaitannya dengan disiplin. Bahkan di jaman tahun 80 an sekolah-sekolah yang dianggap baik terkenal karena peraturan yang ketat dan disiplin yang tinggi.  “Sekolah itu bagus karena disiplin nya kuat sekali, buktinya tiap ada anak yang melanggar peraturan dihukum dengan hukuman yang berat.” Komentar para orang tua siswa di jaman itu.  Demikian lah di jaman itu sekolah yang pandai menghukum siswa nya dengan hukuman berat malah diburu para calon orang tua siswa.

Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah  dengan menghukum siswa. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Karena terbukti penegakan disiplin dengan hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadar an akan perbaikan perilaku.

Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.

Siswa terlambat masuk sekolah ? solusinya dia terkena konsekensi pulang lebih telat dari yang lainnya, atau waktu istirahat dan bermain dipotong . Jangan sampai disitu saja, bicarakan hal ini dengan orang tua siswa, karena mungkin masalah timbul bukan karena si anak tapi karena masalah orang tua.

Dalam mengatasi masalah terlambat masuk sekolah ini saya punya contoh menarik. Tidak jauh dari tempat tinggal saya  ada sebuah sekolah menengah atas yang memilih mengunci pintu gerbangnya setiap jam 7 pagi tepat. Anda bisa bayangkan mereka yang terlambat akan kesulitan untuk masuk karena pintu gerbang sudah terkunci.  Setiap hari akan ada sekitar 10 orang siswa  yang tertahan diluar menjadi tontonan warga sekitar yang lewat di depan sekolah tersebut.  Padahal mereka yang terlambat belum tentu malas, bisa saja karena alasan cuaca atau hal-hal lain yang tidk bisa dihindari.

Alasan pihak sekolah mungkin bisa diterima, tindakan mengunci gerbang diambil atas nama penegakkan disiplin dan membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya datang tepat waktu ke sekolah. Tapi sadarkah pihak sekolah bahwa mengunci siswa di luar bisa mempermalukan harga diri sisw?  Bagaimana bila tetangga atau orang-orang yang mengenali mereka lewat saat mereka terkunci di luar.

Padahal saat sekolah mau menerapkan konsekuensi atas siswa yang terlambat, banyak tindakan yang bisa dilakukan, dari memotong jam istirahat sampai meminta mereka masuk sekolah di hari Sabtu atau Minggu saat teman -temannya libur. Dengan demikian harga diri siswa terjaga dan siswa menjadi makin bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Siswa juga menjadi sadar bahwa konsekuensi bertujuan untuk penyadaran dengan mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka .

Mari kita mengenali apa itu hukuman dan konsekuensi

Hukuman

  1. Menjadikan siswa sebagai pihak yang tidak punya hak tawar menawar dan tidak  berdaya. Guru menjadi pihak yang sangat berkuasa. Ingat “Power tends to corrupt”
  2. Jenisnya tergantung guru, apabila hati guru sedang senang maka siswa terlambat pun tidak akan dikunci diluar.
  3. Bisa dijatuhkan berlipat-lipat derajatnya  terutama bagi siswa yang sering melanggar peraturan.
  4. Guru cenderung memberi cap buruk bagi anak yang sering melanggar.
  5. Sifatnya selalu berupa ancaman
  6. Tidak boleh ada pihak yang tidak setuju, semua pihak harus setuju. Jadi sifatnya memaksa.

Konsekuensi

  1. Dijatuhkan saat ada perbuatan yang terjadi dan berdasarkan pada aturan yang telah disepakati.
  2. Sesuai dengan perilaku pelanggaran yang siswa lakukan.
  3. Menghindari memberi cap pada anak, dengan memberi cap jelek akan melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang berperilaku buruk untuk selama-lamanya.
  4. Membuat siswa bertanggung jawab pada pilihannya. Anda bisa mengatakan “Kevin kamu memilih untuk ribut pada saat bu guru sedang menerangkan maka silahkan duduk di luar selama 5 menit”. Dengan demikian anda menempatkan harga diri anak pada peringkat pertama. Bandingkan dengan perkataan ini “Kevin, dasar kamu anak tidak tahu peraturan,…. tukang ribut! Sana keluar….!

sumber : http://www.majulahsekolahku.com/tips-mendisiplinkan-siswa-tanpa-harus-menghukum.htm

Sekolah sebagai komunitas belajar

dal_ecosystemUpaya mewujudkan sekolah sebagai komunitas belajar bisa dibilang sulit tapi juga bisa menjadi mudah. Mudah dikarenakan sekolah sebagai tempat persemaian ilmu pengetahuan dan tempat dimana ide-ide serta impian dijalankan. Dengan demikian ide untuk menjadikan sekolah sebagai komunitas pembelajar sangat relevan.

Hal pertama yang perlu dipahami siapa saja yang terlibat dalam komunitas belajar. Mereka adalah siswa, guru, orang tua bahkan tata usaha sekolah. Jadi anggapan selama ini di masyarakat yang mengatakan bahwa sekolah merupakan tempat belajar hanya bagi bagi siswa  tidak benar.

Berikut beberapa pernyataan yang bisa membantu terbentuknya komunitas belajar di sekolah;

”Komunitas merupakan hal yang sangat esensial”, menjadi tugas sekolah yang sangat penting untuk membawa siswa dan guru bersama-sama kedalam sebuah komunitas yang mendukung pertumbuhan guru dan siswa sebagai pribadi maupun kelompok. Banyak tempat yang bisa menjadi ladang persemaian hal ini, di kelas, dirumah maupun lewat dunia maya.

”berpikir kritis” Sekolah sedapat mungkin membuat siswa dan guru berpikir secara kritis, dengan seringnya mempertanyakan diri sendiri misalnya dengan pertanyaan, ”mengapa kita mengajar apa yang kita ajarkan?”

 ” Mengambil resiko” – sekolah secara aktif membuat siswa dan guru mau mengambil resiko dalam kaitan pencarian terhadap hal yang paling penting dalam kehidupan mereka sebagai pembelajar. Denga demikian masukan aspek refleksi siswa dalam kegiatan pembelajaran dikelas.

“ Berpusat pada siswa”Sekolah sedapat mungkin menyiram guru dan siswa dengan gagasan-gagasan serta informasi, membuat guru dan siswa mau terus mencari pengetahan dengan cara yang tidak harus sama. Tentu saja dikarenakan sebagai pribadi tiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda tetapi semuanya diupayakan agar punya pengaruh positif pada komunitas di sekolah

“Keberagaman” Sekolah sebagai lembaga, punya peran aktif dalam membuat suasana yang nyaman dari sisi komunikasi sehingga sekolah bisa dengan cepat menerima beragam masukan. Hal ini berarti pihak yang memberi masukan juga akan senang hati memberikannya pada pihak sekolah sambil berpikir bahwa masukan yang akan diberikannya akan ditindak lanjuti.Maklum unsur sekolah biasanya terdiri dari beragam unsure dan beragam pula latar belakangnya, baik sosial maupun pengetahuan.Hal yang paling praktis adalah mengadakan pelatihan singkat bagi tenaga pendukung di sekolah dari tenaga pembersih samai satpam, sampaikan apa yang sekolah harapkan dari peran mereka.

“Menumbuhkan semangat pembelajar” Sekolah sedapat mungkin membuat siswa, guru , administrasi dan orang tua agar mau terus tumbuh dan belajar. Libatkan tata usaha dan orang tua dalam workshop pendidikan disekolah merupakan ide yang brilyan.

“Berinovasi”Dengan menyertakan semua unsur dalam institusi, sekolah berusaha terus melakukan inovasi dalam hal teknologi serta hal lain yang sejalan dengan kemajuan jaman.

“Sekolah yang baik meluluskan orang yang baik pula”Sekolah selalu berusaha untuk mengajarkan siswa mereka perduli dan menghargai amal baik serta mau berpartisipasi dalam masyarakat lewat program yang dirancang dengan baik pula misalnya program ‘community service’.

“Hapus sekat-sekat yang mungkin membatasi” Sekolah menyediakan akses serta jalan bagi guru dan siswa untuk meraih hubungan dengan dunia luar , baik nasional maupun secara global.

 

sumber: http://www.majulahsekolahku.com/sekolah-sebagai-komunitas-belajar.htm

Tipe guru idaman orang tua siswa

Orang tua img_9474

Siswa adalah orang yang bisa diandalkan dalam mengukur kinerja seorang guru. Kepedulian mereka kepada perkembangan anaknya di sekolah yang membuat orang tua siswa punya kriteria mengenai sosok guru yang bagus.

Menariknya keterkaitan orang tua siswa kepada guru anaknya akan meregang menjadi semakin jauh sesuai dengan umur siswa. Semakin muda umur siswa, semakin dekat ia dengan guru anaknya.

Saya kebetulan adalah guru dan saat yang sama adalah orang tua siswa bisa membantu anda dalam menerawang pemikiran mereka.

Buat orang tua siswa, guru yang bagus adalah:

1. Guru yang komunikatif. Guru yang komunikatif bukanlah guru yang cerewet, ia adalah guru yang mau belajar untuk berkomunikasi dengan efektif dengan cara lisan dan tulisan. Guru tipe ini mau berbicara dengan baik dan berorientasi pada solusi jika ada masalah yang terjadi. Ia tahu jika ada masalah kapan mesti telepon atau cukup sms saja atau bahkan memanggil rapat langsung dengan orang tua siswa yang bersangkutan. Ia berani berbicara sopan dengan profesional dengan orang tua siswa yang katanya galak atau tempramental dan sebaliknya bisa menyesuaikan diri dan semakin erat bermitra dengan orang tua siswa yang peduli dan korporatif.

2. Guru yang luwes membawakan diri. Karena senangnya dengan guru yang mengajar anaknya adakalanya orang tua siswa menjadi sedikit berlebihan dalam memberi kesenangan pada guru anaknya misalnya mengajak makan bahkan mengajak liburan bersama (terutama pada guru yang mengajar di TK dan SD). Guru yang disukai adalah guru yang tahu menempatkan diri dan tidak aji mumpung.

3. Rapi dan berusaha menampilkan citra diri yang baik dalam berbusana. Guru yang baik adalah guru yang enak dilihat, menjaga kebersihan badannya dengan seksama. Tidak perlu pakai baju atau parfum mahal yang pasti bisa padu padan dan sadar betul bahwa orang tua siswa ingin anaknya diajarkan oleh guru yang enak dipandang dan tau cara menampilkan diri.

4. Tahu betul hal-hal yang kecil dari siswanya (terutama hal yang positif). Tidak perlu mengajar satu tahun penuh untuk bisa tahu dan mengerti mengenai hal-hal kecil yang menjadi hobi atau kegemaran serta sifat dari anak didik kita.
orang tua siswa senang pada guru yang mengerti hal tersebut dari anaknya. Anda tidak perlu mengorek atau lakukan pengamatan mendalam, cukup dengarkan cerita guru terdahulu atau tanya pada mereka pasti ada cerita sedikit mengenai siswa anda. orang tua siswa merasa terperhatikan jika anda sebagai guru senang berbicara hal yang kecil yang merupakan hasil pengamatan di sekolah.

5. Mengerti latar belakang siswanya. Orang tua siswa bisa dari latar belakang yang bermacam macam. Dari orang biasa sampai konglomerat, dari pegawai sampai pejabat. Bisa juga dari kondisi perkawinan yang sehat dan ideal sampai yang berantakan. Buat guru profesional hal-hal tadi cukup dipakai sebagai pengetahuan saja agar bisa mendidik siswanya dengan lebih baik. Guru seperti ini tidak akan mengumbar rasa ingintahu atau istilahnya ‘kepo’. Ia tetap wajar dalam bersikap dan jadi sosok yang mengerti situasi.

6. Bersedia menjadi mitra belajar bagi orang tua siswa. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, untuk itu orang tua siswa perlu orang yang jadi teman belajar. Akan lebih baik lagi jika orang itu adalah guru anaknya. Ada jenis orang tua siswa yang ingin anaknya menjadi duplikat anaknya atau yang ngotot sekali anaknya pintar matematika dan lupa bahwa anaknya adalah individu yang unik dan pastinya punya potensinya sendiri. Kepada orang tua yang seperti ini guru mesti jadi sosok yang sabar dan dengan hati hati mengarahkan. Untuk itu penting kiranya guru menguasai teori pendidikan terkini serta tahu apa saja tantangan masa depan bagi siswanya. Sebab bisa saja tekanan orang tua siswa pada anaknya berasal dari trauma masa lalu atau akibat tekanan yang ia dapatkan saat masih anak-anak.

Hal yang saya bahas diatas bisa saja dipakai untuk semakin membuat anda sebagai guru dekat dengan orang tua siswa. Sebuah kedekatan bisa berujung apa saja, dari yang positif sampai yang negatif. Saran saya kedekatan yang terjadi, buatlah menjadi alat untuk bisa semakin lancar dalam mendidik siswa dan sarana agar anda bisa sukses sebagai pendidik karena melihat anak didik makin berkembang sesuai dengan potensinya.

sumber: http://www.majulahsekolahku.com/tipe-guru-idaman-orang-tua-siswa.htm

 

Menciptakan kelas yang ‘ramah intelektual’? Kenapa tidak?

Dalam mengelola sebuah kelas terkadang kita hanya berorientasi pada upaya membentuk sebuah kelas yang ramah secara emosional. Artinya sebuah kelas diupayakan agar menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua secara emosional, baik untuk guru maupun siswanya bebas dari bullying, siswa kepada siswa, guru kepada siswa atau bahkan siswa kepada guru. Diharapkan dengan menjadi kelas yang ramah secara emosional semua warga di kelas bisa belajar dengan baik dan guru sebagai orang dewasa dikelas juga bisa mengajar dengan baik pula.

Tulisan ini akan membahas tahap lanjut dari sebuah kelas yang ramah secara emosional. Tahap yang saya maksudkan adalah sebuah kelas yang ramah secara intelektual. Sebuah kelas adalah gambaran sebuah masyarakat intelektual. Didalamnya terjadi pertukaran informasi, presentasi, diskusi dan semua hal yang membuat warga didalamnya tercerahkan dan mendapat pengetahuan baru yang berguna bagi hidupnya kelak.

Dengan demikian apa yang terjadi jika sebuah kelas tidak ramah intelektual? Maka yang terjadi adalah guru hanya menghantarkan pengetahuan yang bersifat satu arah. Tidak terjadi pertukaran informasi, diskusi dan tanya jawab yang berkualitas, aktivitas pembelajaran yang menantang bahkan inisiatif dari siswa sebagai subyek pembelajaran.

Dalam buku ‘Asking better question’ ada beberapa faktor yang membuat sebuah kelas menjadi kelas yang ramah secara intelektual.

  • Lay out kelas. Kelas yang baik tidak mempunyai susunan meja dan kursi yang berderet kebelakang. Tetapi usahakan agar siswa duduk berhadap-hadapan dalam grup. Biarkan mereka bekerja dalam center-center.
  • Buatlah interaksi dikelas yang melibatkan sebuah proses informasi. Sebaiknya hindari membuat siswa hanya mengulang dan menerima dengan pasif apa yang guru sampaikan. Usahakan membuat siswa menyelesaikan sebuah masalah secara bersama-sama, mencari pembuktian, menilai opini yang guru atau rekannya lontarkan.
  • Gunakan bahasa yang bernilai, artinya sebuah bahasa yang lebih dari sekedar pengertian yang akan ditelan mentah-mentah oleh siswa. Jadi biarkan siswa berhipotesa, mempertanyakan asumsi, membuat prediksi, dan menyimpulkan sesuatu.
  • Saat merencanakan pembelajaran di kelas, gunakan pertanyaan dan keingin tahuan siswa sebagai sebagai bumbu untuk membuat arah pembelajaran anda menjadi lebih menarik dimata siswa.

sumber: http://www.majulahsekolahku.com/menciptakan-kelas-yang-ramah-intelektual-kenapa-tidak.htm

Struktur Organisasi Sekolah

Struktur Organisasi Sekolah

Kepala Sekolah : Zulfawardi, S.Pd.I., MA

Wakil Kurikulum : Fitra Lismawarti, S.Pd
Wakil Kesiswaan : Dewi Puspa Sari, S.Pd
Wakil Sarana Prasarana dan Humasy: Afrilia Maulina, S.Pd
Kepala Tata Usaha : Dewi Linda Yerni, S.Pd

Kepala Perpustakaan : Dra. Rafet Raini
Kepala Laboratorium : Dewi Puspa Sari, S.Pd
Bendahara : Dewi Linda Yerni, S.Pd

Koord. BK : Melisa, S.Pd.I

Wali Kelas :

X.1 : Halmita, S.Ag
X.2 : Erndia R, S.Pd

XI IPA : Dra. Rusmaida Nasution
XI IPS 1 : Wira Renisa, S.Pd
XI IPS 2 : Dra. Reniwita

XII IPA : Azizatul Hayat, S.Pd
XII IPS 1 : Dra. Hj. Mardiana
XII IPS 2 : Ritagustiani, S.Sos